by myinspiration dan di ajarkan oleh kemajuan-diri.blogspot.com

Kamis, 26 Januari 2012

Makalah Taqwa dari 11.S1.TI.10

,
BAB I
PENDAHULUAN

A.                  LATAR BELAKANG
Taqwa berasal dari kata waqa-yaqi-wiqayah yang artinya memelihara. "memelihara diri dalam menjalani hidup sesuai tuntunan/petunjuk allah" Adapun dari asal bahasa arab quraish taqwa lebih dekat dengan kata waqa Waqa bermakna melindungi sesuatu, memelihara dan melindunginya dari berbagai hal yang membahayakan dan merugikan. Itulah maka, ketika seekor kuda melakukan langkahnya dengan sangat hati-hati, baik karena tidak adanya tapal kuda, atau karena adanya luka-luka atau adanya rasa sakit atau tanahnya yang sangat kasar, orang-orang Arab biasa mengatakan Waqal Farso Minul Hafa (Taj).


Dari kata waqa ini taqwa bisa di artikan berusaha memelihara dari ketentuan allah dan melindungi diri dari dosa/larangan allah. bisa juga diartikan berhati hati dalam menjalani hidup sesuai petunjuk allah.
“Bertaqwalah kepada Allah yang kepadanya kalian dikumpulkan !’ (Al-maa’idah [5] : 96)
http://quran.insanislam.com/fb/png/59_18.png
‘Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.’ (Al-Hasyr [59] : 18)

Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu dalam pandangan Allah, ialah yang paling takwa (Al Hujurat, 49:13). Untuk memahami pesan-pesan takwa dalam Al Qur’an dan implikasinya dalam kehidupan, ada baiknya pada pendahuluan ini dikemukakan lebih dahulu beberapa pandangan para sufi tentang takwa. Pandangan ini dipilih karena dalam aspek-aspek kajian keislaman lainnya kita belum banyak menjumpai secara khusus pembahasan yang berkaitan dengan takwa.


Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Said Al Khudry mengatakan bahwa seseorang pernah meminta nasehat kepada Rasulullah, lalu beliau mengatakan: “Engkau harus mempunyai ketakwaan kepada Allah, karena ketakwaan adalah kumpulan seluruh kebaikan. Engkau harus melaksanakan jihad, karena jihad adalah kerahiban kaum muslim. Dan engkau harus dzikir kepada Allah, karena dzikir adalah cahaya bagimu”. (HR. Abu Ya’la).
Taqwa merupakan kumpulan seluruh kebaikan, dan hakekatnya adalah “bahwa seseorang melindungi dirinya dari hukuman Tuhan dengan kepatuhan dan ketundukan kepada-Nya. Asal usul taqwa adalah menjaga diri dari syirik, kejahatan dan dosa, dan dari hal-hal yang syubhat, yaitu yang diragukan tentang halal dan haramnya.
Kata “takwa” termasuk salah satu diantara kata-kata agama yang banyak dikenal dan sering diucapkan. Dan Al Qur’an memberikan perhatian yang amat besar terhadap takwa. Kata takwa, dengan kata-kata jadiannya, dalam Al Qur’an terulang sebanyak 258 kali, dan 82 di antaranya terdapat kalimat perintah (imperative) untuk bertakwa. Karena begitu luasnya pembahasan tentang takwa, maka dalam tulisan yang terbatas ini saya hanya akan mengutip beberapa ayat saja, sebagai contoh, untuk memahami arti dan pesan-pesan takwa; walaupun ayat-ayat yang dikutip itu tidak atau belum mewakili makna keseluruhan dari pesan-pesan takwa yang terkandung dalam Al Qur’an.
Begitu esensinya takwa untuk kehidupan manusia dapat kita lihat dalam ajaran Al Qur’an dari uraian berikut ini. Al Qur’an menjelaskan kepada kita bahwa tujuan manusia diciptakan Allah adalah untuk mengabdi kepada-Nya, “Dan tiada Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mengabdi (menyembah) kepada Ku.” (Al Dzariyat, 51:56).
Ibadah berarti pengabdian atau penghambaan diri kepada Allah, Tuhan yang Maha Esa. Karena itu, dalam pengertaiannya yang lebih luas, ibadat mencakup keseluruhan kegiatan manusia dalam hidup di dunia ini termasuk kegiatan “duniawi” sehari-hari, jika kegiatan itu dilakukan dengan sikap batin serta niat pengabdian dan penghambaan diri kepada Allah, yakni sebagai tindakan bermoral. Artinya makna dan tujuan keberadaan manusia ialah ‘perkenan’ atau ridha Allah SWT. Dan secara khusus ibadat juga menunjuk kepada amal perbuatan tertentu yang bersifat keagamaan yang disebut dengan ubudiyah, ritual atau ibadat murni, seperti shalat, puasa, dan lainnya.

B.                  RUMUSAN MASALAH

1.      Apa saja ciri-ciri orang bertaqwa ?
2.      Apa saja unsur - unsur orang yang bertaqwa ?
3.      Apa saja tingkatan taqwa ?
4.      Apa sajakah syarat untuk bertaqwa ?

C.                  TUJUAN PENULISAN
1.      Memenuhi tugas agama islam mengenai Bab Taqwa.










BAB II
PEMBAHASAN

A.      CIRI ORANG YANG BERTAQWA
·         Yu’minuuna bil ghaib, beriman terhadap yang ghaib. Menurut Ibnu ‘Abbas, yu’minuun artinya yushdiquun (membenarkan). Abu al-‘Aliyah menjelaskan makna yu’minuuna bil ghaib artinya beriman kepada Allah, Malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, Hari Akhir, surga-Nya, Neraka-Nya dan pertemuan dengan-Nya, serta beriman dengan kehidupan setelah kematian dan Hari Kebangkitan. ‘Atha menyatakan barangsiapa beriman kepada Allah maka sesungguhnya dia telah beriman kepada yang ghaib. Ibnu ‘Abbas menyatakan bahwa bil ghaib maknanya terhadap apa saja yang datang dari Allah. Zaid ibn Aslam menyatakan bil ghaib artinya bil qadr (ketentuan Allah). Menurut Ibnu Katsir, semua yang disebutkan ulama salaf diatas adalah benar, dan makna ghaib mencakup semuanya (lihat tafsir Ibnu Katsir). Dari ciri pertama ini bisa kita pahami bahwa ciri orang yang bertaqwa adalah orang-orang yang beriman terhadap semua hal ghaib yang diinformasikan oleh Allah ta’ala dalam al-Qur’an al-Karim dan as-Sunnah al-Mutawatirah.
·         yuqiimuunash shalah, mendirikan shalat. Mendirikan shalat menurut Ibnu ‘Abbas maksudnya adalah mendirikan shalat dengan semua fardhunya. Sedangkan menurut Qatadah, mendirikan shalat artinya memelihara waktu-waktunya, wudhu, ruku’ dan sujudnya. Muqatil ibn Hayyan menjelaskan definisi mendirikan shalat adalah menjaga waktu-waktunya, menyempurnakan thaharah, menyempurnakan ruku’ dan sujudnya, membaca Al-Qur’an didalamnya, serta bertasyahud dan membaca shalawat atas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (lihat tafsir Ibnu Abi Hatim). Dari penjelasan para mufassir diatas, bisa kita simpulkan bahwa yuqiimuunash shalah artinya mendirikan shalat dengan melaksanakan semua rukunnya dan menyempurnakannya dengan semua sunnah sejak thaharah sampai selesai shalat. Inilah ciri ke-2 orang-orang yang bertaqwa.
·         alladziina yu’minuuna bimaa unzila ilayka wa maa unzila min(g) qablik, beriman terhadap kitab yang diturunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kepada Rasul-rasul sebelum beliau. Apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Al-Qur’an, tidak ada perbedaan pendapat dalam hal ini. Sedangkan kitab-kitab yang diturunkan sebelum Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, Qatadah menyebutkan ia adalah Taurat, Zabur dan Injil (lihat Tafsir Ibnu Abi Hatim). Ibnu ‘Abbas berkata tentang maksud dari alladziina yu’minuuna bimaa unzila ilayka wa maa unzila min(g) qablik, adalah membenarkan apa yang datang kepadamu (wahai Muhammad, yaitu Al-Qur’an) berasal dari Allah, dan membenarkan kitab-kitab yang ada pada Rasul-rasul sebelummu, mereka tidak membedakan kitab-kitab tersebut dan tidak mengingkari bahwa semua kitab tersebut datang dari rabb mereka.
·         bil aakhirati hum yuuqinuun, yakin dengan adanya akhirat. Menurut Ibnu ‘Abbas, maksud aakhirah adalah ba’ts, qiyaamah, surga, neraka, hisab dan mizan (lihat tafsir Ibnu Abi Hatim). Makna al-yaqiin adalah al-‘ilmu duuna asy-syakk (pengetahuan tanpa ada keraguan sedikitpun), demikian menurut al-Qurthubi. Dari sini kita bisa pahami, orang yang bertaqwa adalah orang yang yakin 100% akan adanya hari akhir, hari kebangkitan kembali seluruh manusia dan hari perhitungan seluruh amal manusia di dunia, apakah seseorang akan berada di surga ataukah di neraka. Keyakinan ini tentu akan menghasilkan ketaatan kepada seluruh perintah Allah ta’ala.
·         mimmaa razaqnaahum yunfiquun, menafkahkan sebagian harta yang telah Allah rizkikan kepada mereka. Menurut Ibnu ‘Abbas maksudnya adalah zakat wajib, sedangkan menurut Ibnu Mas’ud maksudnya adalah Nafkah seorang laki-laki pada keluarganya, karena itu adalah afdhalun nafaqah. Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dinar yang engkau nafkahkan fi sabiilillah (maksudnya perang di jalan Allah), dinar yang engkau nafkahkan untuk membebaskan budak, dinar yang engkau shadaqahkan kepada orang miskin, dan dinar yang engkau nafkahkan untuk keluargamu, dari semuanya itu yang pahalanya paling besar adalah yang engkau nafkahkan untuk keluargamu.” (shahih Muslim: 995). Silakan lihat penjelasan hal ini dalam tafsir al-Qurthubi.
Menurut Qatadah, seperti dikutip oleh al-Baghawi dalam tafsirnya, makna yunfiquun adalah yunfiquuna fii sabiilillah wa thaa’atih. Tafsir Qatadah ini cukup luas dan menunjukkan semua nafkah atas harta yang berorientasi ketaatan kepada Allah ta’ala tercakup dalam ayat ini. Berarti ini juga mencakup tafsir dari Ibnu ‘Abbas dan Ibnu Mas’ud tanpa perlu mempertentangkannya. Inilah pendapat yang saya pegang. Wallahu a’lam bishshawwab.

B.      UNSUR TAQWA
·         Takut kepada Allah, dalam artian kita menanamkan rasa bahwa Allah itu mutlak adanya, Esa, dimana gerak kita selalu terlihat oleh-Nya.Taqwa jenis ini merupakan tingkatan awal, dalam hal ini Allah berfirman :
Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertaqwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan. (QS. 24:52)
”Hai manusia, bertaqwalah kepada Rabbmu; sesungguhnya kegoncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat).(Ingatlah) pada hari (ketika) kamu melihat kegoncangan itu, lalailah semua wanita yang menyusui anaknya dari anak yang disusuinya dan gugurlah segala kandungan wanita yang hamil, dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal mereka sebenarnya tidak mabuk, akan tetapi azab Allah itu sangat keras. (QS. 22:1-2)”
Sekarang, sudah mulai jelas bukan? Jika kita mendasarkan pemahaman hanya pada tingkat ini saja, kapan kita akan merasakan nikmatnya iman? Kapan kita akan mengarahkan taqwa dengan benar? Jika yang kita ketahui hanya satu ”takut pada Allah”. Sedangkan takut pada Allah itu sendiri ada prosesnya.
“Demi kemuliaan-Ku, Aku tidak akan mengumpulkan dua rasa takut dan dua rasa aman pada seorang hamba. Jika ia takut kepada-Ku di dunia, maka Aku akan memberinya rasa aman di akhirat. Dan jika ia merasa aman dari-Ku di dunia, maka Aku akan memberinya rasa takut di akhirat.
·         Setelah kita melaui proses pertama, barulah kita beranjak pada tahapan yang kedua yaitu menjalankan perintah al-Qur`an dan menjauhi apa yang jelas-jelas di larang dalam kitab-Nya. Al-Qur`an surat al-Isra: 9 menjelaskan:
”Sesungguhnya al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu’min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.”
”Barang siapa membaca al-Qur`an dan mengamalkannya, pada hari kiamat kelak kelak Allah akan memakaikan mahkota pada kedua orang tuanya, yang gemerlapan (sinarnya) lebih baik daripda sinar matahari dalam salah satu rumah dunia, sekiranya sinar itu di dalamnya. Lantas bagaimana dugaan kalian mengenai orang yang mengamalkannya sendiri.”
“Demikianlah (perintah Allah), barang siapa mengagungkan syair-syair Allah (lambang-lambang-Nya), sesungguhnya itu timbul dari ketaqwaan hati (QS. Al-Hajj:32)”
“Barang siapa membaca al-Qur`an dan menguasainya (benar-benar memahami maknanya), kemudian ia menghalalkan yang dihalalkan oleh al-Qur`an dan mengharamkan yang diharamkannya, kelak al-Qur`an akan memasukkannya ke dalam surga dan mengizinkan ia memberi syafaat kepada sepuluh orang keluargannya (semuanya) yang telah diharuskan masuk neraka. (HR. Tirmidzi)
·         Mempersiapkan  diri untuk Hari Akhir
Tingkatan ketiga yaitu mempersiapkan untuk hari Akhir.Tahapan taqwa ini merupakan tolak ukur dimana kita melakukan semua aktifitas di dunia ini dalam rangka mempersiapkan diri untuk bertemu dengan-Nya.Membuktikan ketaqwaan kita secara tepat untuk melangkah pada fase kehidupan ke-3 dan seterusnya (alam barzah dan akhirat).
”Tidak seorangpun di antara kalian kecuail diajak bicara oleh Allah tanpa penerjemah. Kemudian ia menoleh ke kanan, maka ia tidak melihat sesuatu melainkan apa yang pernah dilakukannya (di dunia). Ia pun menoleh ke kiri, maka ia tidak melhat sesuatu melainkan apa yang pernah dilakukannya (di dunia). Lalu ia menoleh ke depan, maka ia tidak melhat sesuatu melainkan neraka di depan wajahnya. Karena itu, jagalah diri kalian dari neraka meski dengan sebutir kurma.”
·         Ikhlash menerima apa yang ada
Tahapan terakhir, setelah kita melakukan proses taqwa di atas, kita harus menyertakan rasa rela. Rela di sini dalam artian kita sepenuhnya ridha (ikhlas) dengan ketetapan Allah yang digariskan kepada kita baik lahir maupun batin, rela pada kuantitas bentuk materi yang sedikit.
Barang siapa meninggalkan dunia (wafat) dengan membawa keikhlasan karena Allah swt.saja,ia tidak menyekutukan Allah sedikitpun, ia melaksanakan shalat, dan menunaikan zakat, maka ia telah meninggalkan dunia ini  dengan membawa ridha.
Bersyukur juga harus kita perhatikan, mengapa? Karena begitu sedikit manusia yang bersyukur, banyak dari mereka menganggap syukur hanya dengan kalimat al-hamdulillah namun tak banyak dari mereka mengetahui cara bersyukur.
Dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang berterima kasih. (QS. 34:13)
Dan orang-orang yang berjuang untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. (QS. 29:69)
Seperti itulah tahapan bertaqwa kepada Allah.Seperti itu pula konsep taqwa, yang bila salah satu dari keempatya hilang, maka berkuranglah ketaqwaan itu.  Oleh sebab itu, surat al-Baqarah: 41 وإيي فالتقون yang artinya “maka hanya kepada-Ku kamu harus bertakwa“. Pertanyaannya; taqwa yang bagaimana?Dan di tingkat mana ketaqwaan itu tertanam?
Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan ketaqwaan sebenar-benarnya.(Al-Imran: 102)

C.      TINGKATAN TAQWA
·         Taqwa nya Orang Orang yang hanya Melaksanakan Perintah Allah dan Menjauhi Larangan Allah dengan Sekedarnya atau hanya melaksanakan agar gugur kewajiban saja.
Taqwa semacam ini kata pak Khotib, adalah taqwa nya orang orang yang nggak sehat rohani nya. karena orang yang taqwa semacam ini hanya menjadikan beban saja kepada orang yang melakukannya. semisal orang tersebut melaksanakan sholat tanpa ada kesadaran dari hati untuk melaksanakan sholat tapi lebih karena orang tersebut takut akan berdosa jika tidak melaksanakan sholat atau meninggalkannya. sholatnya pun asal saja, tidak tepat waktu, tidak sholat secara berjamaah di masjid atau musholla tapi “yang penting melaksanakan sholat”.
·         Taqwa nya Orang Orang yang ingin menjadikan ibadah itu sebagai suatu hal yang terbaik dalam hidupnya agar bisa menjadi Solusi dan Penolong bagi dirinya dalam menghadapi Problematika Hidup.
Dalam Tingkatan Taqwa yang kedua ini, Pak Khotib memberikan Ilustrasi sebuah Kisah yang sangat menarik. Kurang lebihnya Kisah itu seperti Ini : “Pada saat itu Hujan Deras dan angin bertiup sangat kencang. ada Tiga orang yang terjebak didalam  sebuah Gua yang tertutup sebongkah Batu Besar akibat tertiup angin. sehingga ketiga orang ini tidak bisa keluar dari goa.
Namun Karena ketiga orang ini masing masing adalah seorang yang bertaqwa dan beramal sholeh maka mereka akhirnya bisa keluar dari dalam Goa karena Pertolongan dari Allah.
Saat terjebak didalam Goa, Orang Pertama yang berprofesi sebagai Penggembala berdoa :” Ya Allah, Aku adalah seorang Penggembala, tiap malam aku selalu memeras susu dari ternakku untuk aku minumkan kepada kedua orang tuaku.  pernah pada suatu malam kedua orang tuaku karena kecapek’an, mereka tertidur, dan akhirnya aku belum sempat meminumkannya, pada saat itu anakku menangis minta susu itu, tapi aku tidak memberikan susu itu kepada anakku karena kedua orang tuaku belum meminumnya. aku menunggunya sampai mereka bangun dari tidurnya, lalu aku meminumkannya, baru setelah itu baru aku berikan susu itu kepada anak dan istri ku.” jika hal itu adalah sesuatu yang terbaik menurut Engkau, Tolong Engkau bukakan Batu yang menutup Goa ini agar Kami dapat keluar. maka seketika itu juga Batu besar yang menutup Goa itu membuka sedikit, namun Mereka bertiga masih belum bisa keluar dari Goa.
Orang kedua kemudian Berdoa lagi, “Ya Allah… aku Pernah akan Berbuat Zina dengan saudari sepupuku, karena Dia butuh Uang, kemudian aku bilang kepadanya, aku akan berikan uang / harta  kepadamu tapi dengan syarat engkau harus mau berzina denganku, lalu pada saat aku akan menidurinya…, aku terigat kepadaMu dan aku tidak jadi Melakukannya, lalu aku tinggalkan Uang dan hartaku untuk saudari sepupuku yang tidak jadi aku zinahi. Jika hal itu adalah termasuk perbuatan terbaik yang pernah aku lakukan, maka aku mohon kepadaMu ya Allah… Buka kan Pintu mulut Goa ini agar Kami bisa Keluar. Maka Batu yang menutupi pintu goa itupun bergeser sedikit… namun masih juga mereka bertiga belum bisa keluar.
Lalu Orang Ketiga juga Berdoa… Orang ketiga ini adalah seorang Pengusaha Kaya Raya (Majikan) dan mempunyai banyak Karyawan. pada saat gajian, ada seorang karyawannya yang tidak hadir dan belum mengambil gaji nya. lalu pengusaha ini mengambil inisiatif untuk membelikan gaji karyawan tersebut beberapa ekor kambing. beberapa tahun berlalu si karyawan ini tidak muncul juga hingga akirnya kambing pun bertambah banyak sampai sampai bukit penuh dengan kambing. suatu ketika karyawan yang belum mengambil gaji nya tersebut menghadap sang majikan untuk mengambil hak nya yang belum sempat diambil pada waktu itu. tanpa disangka oleh karyawan.., majikan itu ternyata memberikan seluruh kambing itu kepada si karyawan, betapa senang si Karyawan itu.
Dari cerita diatas, lalu Majikan ini ber do’a… “Ya Allah… Jika perbuatanku itu Kau catat sebagai Amal Ibadah terbaikku.. aku mohon PadaMu… agar engkau menolongku agar Batu yang menutup Goa ini terbuka lebar… dan Akhirnya… dari ketiga amal sholeh dan perbuatan terbaik ketiga orang ini goa pun terbuka lebar sehingga mereka bertiga bisa  selamat dan keluar dari Goa.
Oleh karena itu, kata pak Khotib…, Amalan yang terbaik yang timbul dari hati itulah sebaik baik taqwa dan bisa memberikan Pertolongan kepada diri kita sendiri.
·         Taqwa nya Abu Bakar As-sidiq (Yaitu Taqwa yang sudah habis habisan, mengorbankan segalanya di jalan Allah.. termasuk Jiwa Raga dan Harta Benda namun masih merasa masih terlalu banyak dosa)
Konon menurut pak khotib, Menurut Riwayat Hadist Soqih, Abu Bakar assidiq adalah Sahabat Nabi yang Kaya Raya, dan mempunyai banyak super market, Lalu kemudian menjadi Miskin dan tidak memiliki harta apapun, bahkan jubah dan sorban nya pun hanya dari karung goni yang kusut. semua harta nya di gunakan untuk membantu perjuangan Rasullullah. namun pengorbanannya itu tidak menjadikan abu Bakar assyidiq berbangga diri, malah beliau masih merasa masih sangat banyak dosa dan selalu berdoa mohon ampun kepada Allah SWT. inilah taqwa yang menduduki tingkatan paling atas kata pak khotib.
D.     SYARAT TAQWA
·         Ilmu
Dijadikan sebagai syarat untuk menggapai derajat taqwa, karena ilmu adalah merupakan langkah awal untuk melakukan  atau menentukan sesuatu untuk mencapai tujuan. Seseorang bila ingin mencapai sebuah tujuan, maka dia harus mengetahui (baca: meng-ilmu-i) hakikat (bentuk, rupa dan keriteria) tujuan tersebut dengan jelas, tidak samar-samar, lalu dia harus mengetahui persiapan apa yang ia lakukan untuk mencapai tujuan tersebut, dan dia harus mengetahui apa konsekuensi yang harus ia pelihara ketika telah mencapai tujuan tersebut... dan seterusnya - dan seterusnya.
Allah berfirman:
فَاعْلَمْأَنَّهُلَاإِلَهَإِلَّااللَّهُوَاسْتَغْفِرْلِذَنْبِكَ
"Ketahuilah bahwasannya tiada tuhan (yang patut disembah dengan benar) melainkan Allah, dan mohon ampunlah atas dosa-dosamu".[QS. Muhammad:19]
Pada ayat ini Allah berfirman dengan menggunakan fi'il 'amr (kata kerja perintah), yaitu: ف - اعلم , dimana fi'il ini mashdarnya adalah علم (Ilmu), yang ma'nanya adalah: "Ketahuilah" atau "ilmuilah" . Oleh karena itu dengan berdasarkan dalil ini Al Imam Muhammad bin Isma'il Al Bukhoriy dengan kedalaman ilmunya dalam memahami Al Qur'an, dan dengan kecerdikannya dalam ber - istinbath (mengeluarkan hukum dari/dengan dalil), meletakan sebuah Bab dalam kitab Shahihnya, dengan berkata:
باب العلم قبل القول و العمل
"Bab Ilmu terlebih dahulu sebelum berkata dan beramal / berbuat"  [Shahih Bukhoriy - Kitab Al Ilmu] 
Demikian juga dengan taqwa, taqwa adalah merupakan puncak tujuan yang paling mulia bagi manusia dalam beragama, oleh karena itu satu hal yang lebih utama lagi bagi seorang muslim untuk berilmu tentangnya, dan ini suatu keharusan, yaitu diantaranya berilmu tentang hakikat taqwa, lawazim (unsur-unsur) taqwa, tentang syarat dan rukunnya, tentang konsekuensinya, dan kepada siapa dia bertaqwa.
Ringkas kata kita harus berilmu tentang taqwa dengan baik dan benar serta jelas dan tidak samar-samar, sebelum kita berkata, dan berbuat/beramal dalam melangkah menggapai derajat taqwa.           
Lawan dari ilmu adalah kejahilan (kebodohan). Maka suatu hal yang tidak mungkin (mustahil) seseorang akan mencapai tujuan, bila ia bodoh atau  tidak mengetahui alias jahilterhadap tujuannya sendiri. Demikian juga dengan ketaqwaan, seseorang tidak akan pernah mencapai derajat taqwa bila ia jahil (bodoh) tentang ketaqwaan.   
            Akan tetapi Ilmu yang dimaksud secara mutlak, yang tidak boleh seorang muslim bodoh (jahil) tentangnya adalah: Ma'rifatullah (mengenal Allah), Ma'rifat An Nabi (mengenal Nabi), dan Ma'rifat Diin Al Islam bil Adillah (mengenal agama Islam dengan dalil). Inilah yang dikatakan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab bin Sulaiman At Tamimiy dalam "Al Ushul Ats Tsalatsah".
           
            Sebagian ulama menyatakan, bahwa ilmu yang dimaksud adalah: Apa yang Allah Firmankan dalam Al Qur'an, dan apa yang Rasululah sabdakan dalam Al Hadits, dan apa yang para shahabat Rasul katakan dalam memahami Al Qur'an dan Al Hadits.           
            Semua itu adalah lawazim taqwa yang sangat mendasar, setiap muslim bila ingin mencapai derajat taqwa harus bertolak dari ilmu-ilmu tersebut, bila tidak ia akan lemah dan rapuh, tidak akan pernah mencapai derajat taqwa.
·         Ikhlash
Yang dimaksud adalah mentauhidkan Allah dalam segala bentuk peribadahan kepada -Nya, memurnikan ibadah hanya untuk Allah, dalam rangka menjalankan perintah dan menjauhi larangan -Nya, semuanya dilakukan hanya karena dan untuk Allah tabaraka wa ta'ala.
            Allah berfirman:
 وَمَاأُمِرُواإِلَّالِيَعْبُدُوااللَّهَمُخْلِصِينَلَهُالدِّينَحُنَفَاءَوَيُقِيمُواالصَّلَاةَوَيُؤْتُواالزَّكَاةَوَذَلِكَدِينُالْقَيِّمَةِ
" Dan tidaklah mereka diperintah kecuali agar mereka menyembah Allah dengan memurnikan keta'atan kepadanya dalam menjalankan agama dengan lurus, dan agar mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan yang demikian itulah agama yang lurus". [QS. Al Bayyinah: 5]
Agama yang lurus adalah agama yang jauh dari kesyirikan (menyekutukan Allah) dan jauh dari kesesatan
            Rasulullah bersabda:
·         (( إنما الأعمال بالنية و إنما لكل امريء ما نوى ، فمن كانت هجرته إلى الله و رسوله فهجرته ، فهجرته إلى الله و رسوله ، و من كانت هجرته للدنيا أو امرءة ينكحها فهجرة إلى ما هاجر إليه ))
"Hanyasaja amal itu dengan niat, dan hanyasaja bagi setiap orang sesuai dengan niatnya, maka barang siapa hijrahnya kepada Allah dan Rasul -Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul -Nya, dan barang siapa yang hijrahnya untuk dunia yang akan dicarinya, atau wanita yang akan dinikahinya, maka hijrahnya kepada apa yang ia niatkan". [HR. Al Bukhariy & Muslim, dari Umar bin Al Khathab].
Sabda Nabi yang mulia ini adalah merupakan timbangan amalan batin, untuk atau karena apa seseorang itu beramal / ibadah, untuk atau karena siapa seseorang itu beramal / ibadah, hanyasaja ini adalah sesuatu yang abstrak, karena letaknya dalam hati, antara ia dan Allah saja yang tahu, dan hanya Allah yang akan memperhitungkannya.
Dijadikan ikhlas adalah sebagai syarat untuk mencapai derajat taqwa, karena tidak mungkin seorang muslim disebut orang yang bertaqwa sedangkan ia berbuat kesyirikan, memalingkan ibadah kepada selain Allah, menjadikan ibadahnya perantara-perantara kepada Allah dengan apa yang tidak diizinkan oleh Allah, atau Allah tidak menurunkan keterangan -Nya dalam kitab -Nya, atau dalam ibadahnya hanya untuk mencari penghidupan dunia, atau hanya karena wanita yang akan dinikahiya, hal-hal tersebut adalah yang merusak keikhlasan dalam beribadah kepada Allah. Bagaimana seseorang akan mencapai derajat taqwa sedangkan ibadahnya rusak, dan tertolak disisi Allah?
            Allah berfirman:
ذَلِكَهُدَىاللَّهِيَهْدِيبِهِمَنْيَشَاءُمِنْعِبَادِهِوَلَوْأَشْرَكُوالَحَبِطَعَنْهُمْمَاكَانُوايَعْمَلُونَ
Itulah petunjuk Allah, yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya di antara hamba-hambaNya.seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan. [QS. Al An'am: 88]
Oleh karena itu ikhlas adalah merupakan syarat mutlak untuk mencapai ketaqwaan.
·         Ittiba'
        mengikuti contoh (suri tauladan) Nabi Muhammad Rasulullah shalallahu'alaihi wa sallam diseluruh totalitas kehidupan kita dalam beribadah kepada Allah 'Azza wa Jalla. Hal ini dikarenakan 2 hal:
Pertama: Karena Rasulullah adalah manusia dan hamba Allah yang pertama kali yang telah mencapai puncak ketaqwaan. Beliaulah orang yang paling bertaqwa didunia. Oleh karena beliau orang yang paling mengerti tentang apa yang dikehendaki oleh Allah, sehingga beliau orang yang pertama kali yang mengerjakan semua perintah Allah, dan orang yang paling pertama kali yang menjauhi larangan Allah berdasarkan bimbingan dari Allah.
Rasulullah bersabda:
(( أنا أتقى منكم ))
"Akulah orang yang paling bertaqwa diantara kalian".[HR. Al Bukhariy]
Sabda Nabi demikian jangan sekali-kali kita melihatnya dari pintu kibr (kesombongan), Nabi bersabda demikian karena ada diantara orang-orang yang munafiq yang menuduh beliau tidak/kurang bertaqwa kepada Allah, dan kurang berbuat adil dalam pembagian harta rampasan perang, hal ini disebabkan karena pembagiannya tidak merata, dan orang yang menuduhnya ini hanya mendapat bagian yang sedikit. Padahal beliau membaginya sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala. Bahkan Rasulullah berlaku demikian karena ketaqwaannya kepada Allah, karena menjalankn perintah Allah.Makanya Rasulullah berkata demikian karena beliaulah orang yang pertama kali yang menjalankan perintah Allah meskipun manusia tidak menyukainya.
Kedua: Karena orang yang beramal atau ibadah kepada Allah, sedangkan ibadahnya tersebut tidak pernah ada ajarannya dari Rasulullah Muhammad shalallahu'alaihi wa sallam , maka amalannya atau ibadahnya tersebut tertolak disisi Allah subhanahu wa ta'ala
                                                Rasulullah bersabda:
(( من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد ))
"Barang siapa yang mengamalkan satu amalan yang tidak ada atasnya ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak".[HR. Al Bukhoriy & Muslim, dari Ummul Mu'minin Aisyah radliallahu'anha]
Bagaimana kita akan mencapai ketaqwaan sedangkan amal ibadah kita tertolak disisi Allah? Oleh karena itu Ittiba' (mengikuti contoh / sunnah) Rasul, adalah syarat untuk mencapai derajat taqwa.
Adapun ayat-ayat Al Qur'an yang berbicara dan memerintahkan untuk ittiba' kepada Nabi, banyak diantaranya:
                        Allah berfirman:
قُلْإِنْكُنْتُمْتُحِبُّونَاللَّهَفَاتَّبِعُونِييُحْبِبْكُمُاللَّهُوَيَغْفِرْلَكُمْذُنُوبَكُمْوَاللَّهُغَفُورٌرَحِيمٌ
"Katakanlah (Muhammad), jika kamu (benar-benar) mencintai Allah maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampunkan dosa-dosamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang".[QS. Ali Imran: 31].
Dan Allah berfirman:
(( ... و ما آتاكم الرسول فخذوه وما نهاكم عنه فانتهوا ... ))
"... Dan apa-apa yang didatangkan oleh Rasul kepadamu maka terimalah, dan apa-apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah..." [QS. Al Hasyr: 7]
                                                Dan Allah berfirman:
(( من بطع الرسول فقد أطاع الله ))
"Barangsiapa yang taat kepada Rasul maka sungguh ia telah mentaati Allah" [QS.An Nisa: 80]

BAB III
KESIMPULAN
Takwa adalah suatu kata yang sering disebut dan terdengar dalam kalangan umat Islam, Arti Takwa yakni takut kepada Allah swt yang disertai aktifitas atau mencegah diri dari segala larangan sembari mengerjakan segala perintahnya, bukan takut dengan diam atau bukan mencegah diri dari bertindak. Terkadang berada dalam keadaan takut atau mencegah diri dengan berdiam diri (non-aktif), yakni pergi masuk rumah, duduk dan tanpa melakukan suatu kerja, atau dengan tidak menyetir mobil untuk mencegah diri dari menabrak gunung atau supaya tidak terlempar ke jurang. Mencegah diri dari mendaki gunung, tidak bergerak supaya duri dan semak-belukar tidak menusuki kaki dan paha, apakah demikiankah arti takwa?. Tentunya tidak demikian dan Islam tidak menyarankan kita untuk bersikap demikian, akan tetapi Islam mengatakan hadapi dan gelutilah aktifitas dan kejadian yang terjadi dihadapan dan di ketika itulah hendaknya bertakwa.
Dari itu, hendaknya memahami makna kata Takwa dengan: "Menjaga diri dalam setiap aktifitas atau berhati-hati dalam bergerak", bergeraklah dalam berbagai lapangan namun berhati-hatilah dari berbagai kesalahan, dari terjerembab dan orang lain, dari mengarah pada kesia-siaan dan dari melampaui batas-batas yang sudah ditetapkan untuk manusia, yang jika telah lampaui maka manusia akan tersesat dari jalannya, karena jalan kehidupan ini sangat berbahaya, panjang dan gelap.
Kegelapan dunia ini dapat disaksikan: kekuasaan materialis sekarang ini telah mengepulkan debu tebal di permukaan dunia, sinyal-sinyal telekomunikasi mereka lancarkan, arahan-arahan kehendak mereka lakukan dan berapa banyak manusia telah kehilangan jejak dari jalannya, jadi sudah semestinya hendaknya berhati-hati!.
Betapa di dunia sekarang ini, kehendak dan niat perjalanan para tiran dunia telah mendapat tempat di hati sebagian besar penduduk dunia, seperti apa yang mereka katakan: "Pemikiran umum Barat mengatakan demikian", maka demikianlah yang mereka usahakan sehingga pola pemikiran umum Barat menjadi sebuah pernyataan yang seakan-akan menjadi satu hakekat, untuk apa ini sebenarnya?, Mereka menginginkan supaya kepercayaan-kepercayaan manusia ditarik kearah Barat. Patut disayangkan, kepercayaan orang banyak telah berhasil mereka pengaruhi dan inilah sikap elastis manusia yang juga memiliki kecenderungan untuk menerima kesesatan dari jalan kehidupan yang hakiki, yang jika sedikit saja mereka kehilangan kesadarannya maka dengan cepat mereka akan tersesat (dari jalan hakiki), dari itu maka ditengah perjalanan (duniawi) ini dibutuhkan Takwa.
Jika seseorang tidak memiliki Takwa dan demikian saja (berjalan dengan) menutup mata, tanpa memperhatikan dengan penuh kesadaran melakukan aktifitasnya dan bertindak, apakah Quran dapat memberi hidayat kepadanya? Tentu tidak, tiada satu kata kebenaranpun dapat menghidayati manusia seperti ini!.
Seorang yang tidak menyiapkan telinga hatinya untuk mendengarkan, maka tiada perkataan hakikat yang dapat ia percaya, sedang ia hanya mabuk kepayang dalam kendali pilihan syahwatnya saja atau hanya dengan syahwat orang lain ia bergerak, maka Quran tidak akan memberi hidayat kepada orang semacam ini.
Betul, memang Al-Quran memanggil mereka juga untuk dapat menerimanya sebagai pemberi hidayat, namun panggilan Quran ini tiada dirasakan dengan peka oleh telinga mereka, keadaan mereka yang seperti ini disebutkan oleh Al-Quran sendiri ddengan satu ibaratnya: "Mereka itu bagai dipanggil dari tempat yang jauh" (Qs Fusilat/44) – Dan ayat demikian mengisyaratkan kepada orang yang seperti ini, kepada mereka diperdengarkan seruan dari jarak yang jauh.
Kadang-kadang ketika mendengar satu lagu dari tempat yang jauh, seperti seseorang mendendangkan satu lagu yang sangat indah dengan liku-liku irama yang sangat harmonis dan syahdu, tetapi katakanlah dari kejauhan satu kilo meter suaranya sampai ke telinga, maka apa yang dapat difahami dari kata demi kata yang dilantunkannya? Tentunya pertama ia tidak dapat dimaklumi, karena ucapan kata-kata tidak terdengar dengan baik, hanya desingan suara yang terdengar, kedua, irama indah yang digunakannyapun tidak dapat dirasakan dan tidak dapat difahami kelembutan dan kesyahduannya.
Persis seperti sebuah lukisan yang berbentuk garis panjang yang digores dipermukaan tembok yang dilihat dari kejauhan, ia akan terlihat hanya sebagai satu garis kosong saja, tetapi ketika Anda mendekatinya ternyata memiliki ukiran indah yang menunjukan ketinggian karya seni yang digunakan keatasnya yang tidak dapat dilihat dari jarak yang jauh, demikian macam orang-orang ini, dimana Al-Quran mengatakan bahwa mereka seperti memperdengarkan panggilannya dari kejauhan sehingga mereka tidak dapat mendengarkanya dengan baik.
            Kata taqwa yang terulang dalam Alquran sebanyak 17 kali, berasal dari akar kata waqa’ – yaqiy yang menurut pengertian bahasa berarti antara lain, ‘menjaga, menghindari, menjauhi’ dan sebagainya. Kata taqwa dalam bentuk kalimat perintah terulang sebanyak 79 kali, ‘Allah’ yang menjadi objeknya sebanyak 56 kali, neraka 2 kali, hari kemudian 4 kali, fitnah (bencana) 1 kali, tanpa objek 1 kali. Sedangkan selebihnya yakni 15 kali, objeknya bervariasi seperti rabbakum (Tuhanmu), al-ladzi khalaqakum (yang menciptakan kamu), al-ladzi amaddakum bi ma ta’malun (yang menganugerahkan kepada kamu anak dan harta benda) dan lain-lain. Redaksi-redaksi tersebut semuanya menunjuk kepada Allah swt. Dari sini dapat disimpulkan bahwa pada umumnya objek perintah bertakwa adalah Allah swt. Sedangkan istilah Muttaqien adalah bentuk faa’il (pelaku) dari ittaqa suatu kata dasar bentukan tambahan (mazid) dari kata dasar waqa, yang biasanya diterjemahkan menjadi “orang yang menjaga diri untuk menyelamatkan dan melindungi diri dari semua yang merugikan”. Jadi secara keseluruhan kata muttaqien adalah menjaga diri untuk menyelamatkan dan melindungi diri dari semua yang merugikan yaitu dari kemaksiatan, sirik, kemunafikan dan sebagainya.
            

0 komentar to “Makalah Taqwa dari 11.S1.TI.10”

Poskan Komentar

 

my inspiration Copyright © 2011 | Template design by O Pregador | Powered by Blogger Templates